Sekjen Kemenag Prof Kamaruddin Amin: Kampus Tidak Boleh Terisolasi dari Realitas Sosial dan Dinamika Kehidupan Masyarakat
Keterangan foto: Sekjen Kemenag, Prof Dr Phil H Kamaruddin Amin, M.A saat menyampaikan sambutan pada peresmian gedung FTIK IAIN Ternate.
TERNATE – Di kampus, banyak Profesor dan Doktor, banyak SDM yang bagus, tapi di balik tembok kampus, banyak orang yang tidak bisa baca tulis Alquran, tidak bisa ngaji, banyak orang miskin, banyak orang yang membutuhkan bantuan.
Hal ini ditegaskan Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kementerian Agama Prof Dr Phil H Kamaruddin Amin, M.A saat meresmikan Gedung Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Tenate, di kelurahan Gambesi, Kecamatan Ternate Selatan, kota Ternate, Minggu (15/2/2026).
Menurut dia, akademisi tidak boleh menutup mata dari realitas yang ada di sekeliling kampus, dan kampus harus konektif terhadap dinamika yang ada. Dengan begitu, kampus harus memusatkan perhatian terhadap hal-hal yang memberi manfaat untuk masyarakat.
“Jadi, tugas kampus itu bukan hanya mendidik dan mencerdaskan, tetapi bagaimana kampus bisa memberdayakan masyarakat sekitar, bisa berdampak secara sosial. Jadi, kita tidak bisa tutup mata, jika persoalan-persoalan yang terjadi di sekitar kita. Kita tidak bisa menganggap bahwa bukan tugas kita,” tegasnya.
Dia menuturkan, kampus harus menjadi pilar utama kemajuan sebuah bangsa, karena di kampuslah melahirkan SDM. Selain itu, lanjut dia, secara kelembagaan kampus juga harus merumuskan langkah-langkah pengabdiannya, dan bersama-sama pemerintah mengawal proses pembangunan.
“seperti di unit Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M), harus punya data berapa orang miskin yang ada di setiap daerah di Maluku Utara, dan apa yang bisa kita lakukan untuk mengentaskan kemiskinan itu, begitupun berapa orang yang tidak bisa baca tulis Alquran, kemudian apa bisa kita kontribusikan,” ujarnya.
“Kita punya Profesor dan Doktor apa yang mereka lakukan untuk membantu masyarakat, jadi tidak boleh kampus hanya terkonsentrasi mengurus mahasiswa saja, karena mahasiswa itu hanya salah satu agenda saja dari sekian tugas kampus,” tambahnya.
Selain itu, dia menegaskan bahwa mahasiswa tidak boleh berpikir hanya pintar di jurusan saja. Sebab, ke depan mereka bakal menghadapi kehidupan yang lebih menantang.
“Jadi, mahasiswa itu sejak hari pertama masuk kampus harus punya blue print tentang masa depan, harus punya cita-cita setelah menyelesaikan studi harus konsentrasi di bidang apa-apa saja,” ucapnya.
“Saat masih menjadi mahasiswa, sangat penting kuasai ilmu yang dipelajari, tapi jangan merasa puas, tapi tambah lagi ilmu-ilmu yang lain, tambah skill dan kapasitas kompetensi yang lain,” tandasnya.