• Institut Agama Islam Negeri Ternate Indonesia

Resmi Nahkodai IAIN Ternate, Ini yang Bakal Dilakukan Rektor Adnan Mahmud

Resmi Nahkodai IAIN Ternate, Ini yang Bakal Dilakukan Rektor Adnan Mahmud

Keterangan Foto: Rektor IAIN Ternate, Dr Adnan Mahmud, S.Ag., M.A

 
TERNATE – Setelah dilantik Menteri Agama RI, Nasaruddin Umar sebagai Rektor IAIN Ternate, Maluku Utara, periode 2026-2030 menggantikan Prof Dr Radjiman Ismail, M.Pd pada Selasa (10/3/2026), Dr Adnan Mahmud, S.Ag., M.A mulai bergerak menetapkan program prioritas yang bakal digulirkan sepanjang periode kepemimpinannya. 

Menurut dia, ada sejumlah program yang telah dipilih untuk direalisasikan dengan mengacu pada visi dan misinya sebagai Rektor IAIN Ternate. Program tersebut, kata dia, ditetapkan untuk pengembangan kelembagaan. 

“Sesungguhnya pengembangan kelembagaan sangat penting, karena itu ada sejumlah program yang telah ditetapkan dan dugulirkan untuk empat tahun ke depan,” terang Adnan saat ditemui di ruang kerjanya, Kamis (12/3/2026). 

Dia menjelaskan, hal pertama yang menjadi perhatian yakni penguatan akademik. Langkah ini dilakukan dengan mendorong proses pembelajaran dan penelitian harus berlangsung secara profesional, berkualitas, inovatif dan berdaya saing. 

Selain itu, yang menjadi fokus perhatian selanjutnya adalah soal integrasi-interkoneksi keilmuan di IAIN Ternate. Menurut dia, hal ini dilakukan dengan tujuan menepiskan dikotomi (pembagian atas dua kelompok yang saling bertentangan, red) antara ilmu umum dan ilmu keagamaan Islam. 

“Kita memulai dari program pascasarjana (S-3) dengan program studi Islam melalui Multidisipliner, Interdisipliner, dan Transdisipliner keilmuan, ini dengan tujuan untuk menjawab kebutuhan dan mengurai kemaslahatan dan mengembangkan nilai-nilai kemanusiaan,” terangnya. 

“Kalau kita hanya melihat sebatas ilmu agama dan mengesampingkan ilmu-ilmu umum, terutama ilmu sosial dan ilmu lainnya, praktis kita tidak bisa berbicara lebih untuk merespon problem yang dihadapi masyarakat, terlebih masyarakat kepulauan, karena itu, ilmu-ilmu umum dan ilmu Islam harus kita padukan,” sambungnya. 

“Artinya selain menguasai ilmu-ilmu agama, harus dibarengi dengan ilmu-ilmnu sosial, sehingga IAIN Ternate memberi dampak yang beragam di tengah-tengah masyarakat,” imbuhnya. 

Selain penguatan akademik dan perhatian terhadap integrasi-interkoneksi keilmuan, dia mengungkapkan bahwa penguatan kelembagaan dan kerja sama menjadi skala prioritas sepanjang periode kepemimpinannya. 

“Walaupun sudah ada kerja sama yang telah dilakukan dengan berbagai lembaga, tapi perlu ada penguatan, sehingga tidak hanya berhenti di atas kertas, tetapi harus ditindaklanjuti agar menghadirkan dampak positif untuk IAIN Ternate,” ujarnya. 

“Sehingga kita bisa mensejajarkan IAIN Ternate dengan kampus-kampus yang lainnya; baik di Maluku Utara maupun di level nasional,” imbuhnya. 

Soal pengembangan SDM, menurut dia sangat penting dilakukan. Hanya saja, harus berdasarkan pemetaan secara terukur. Sementara terkait peningkatan kesejahteraan dosen, mantan wakil rektor IAIN Ternate bidang Akademik dan Pengembangan Lembaga itu, telah menentukan skema yang ideal, yakni mendorong dan memberi kemudahan kepada semua dosen untuk mengejar kepangkatan akademik. 

Untuk itu, dia mengharapkan kepada dosen di IAIN Ternate agar harus memusatkan perhatian pada kepangkatan, sehingga memberi dampak pada kesejahteraan secara personal, dan memudahkan langkah untuk akselerasi ke guru besar. 

“Artinya bahwa selain mendorong dosen melanjutkan studi, di sisi lain jangan sampai menunda kenaikan kepangkatan; baik reguler dan fungsional. Karena dari segi kepangkatan juga berpengaruh terhadap lembaga,” katanya. 

Sementara soal program akselerasi ke guru besar, alumni pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta itu menegaskan bahwa hal ini menjadi perhatian serius sepanjang kepemimpinannya. 

Dia menilai program akselerasi ke guru besar memberi dampak yang jauh lebih besar terhadap lembaga, sehingga pihaknya bakal menentukan skema yang tepat demi memberi ruang yang sama kepada semua dosen yang telah memenuhi persyaratan untuk meraih status guru besar. 

“Karena semakin banyak dosen meraih status guru besar, praktis menguatkan ruh perguruan tinggi. Untuk itu, kami akan mendorong para tenaga pendidik (dosen’ red) untuk memusatkan perhatian terhadap akselerasi guru besar,” ucapnya. 

Dia menambahkan, pihaknya juga bakal menetapkan skema pengabdian kepada masyarakat (PKM) dan penelitian kolaborasi dengan dosen pada sejumlah perguruan tinggi; baik di dalam negeri maupun di luar negeri yang telah menjalin kerja sama dengan IAIN Ternate. 

“Kami akan mencari skema yang terbaik untuk mendorong kegiatan tri dharma perguruan tinggi terselenggara secara baik,” katanya. 

Selain itu, dia menilai pembangunan sarana prasarana di era kepemimpinan mantan Rektor IAIN Ternate Prof Radjiman Ismail telah berlangsung sangat baik, sehingga dia menilai dapat mengurai permasalahan akademik. 

“Yang dilakukan Prof Radjiman Ismail soal pembangunan sarana prasarana saya menilai sudah sangat baik, jadi tinggal kita melakukan peningkatan dan penguatan demi kemajuan lembaga,” ujarnya. 

Sementara terkait transformasi kelembagaan dari IAIN menjadi UIN, dia menilai tetap mengacu pada persyaratan yang ditetapkan pada regulasi. Walaupun begitu, menurut dia, pihaknya bakal menentukkan strategi untuk mempercepat transformasi tanpa mengabaikan syarat-syarat yang ditetapkan pemerintah. 

“Sebagai pimpinan tentu tidak sesumbar, tetapi yang terpenting adalah berkolaborasi secara bersama-sama untuk perjuangkan transformasi kelembagaan dari IAIN ke UIN,” pungkasnya. (*)