Gelar Kegiatan Penyusunan Kurikulum Berbasis OBE, FEBI IAIN Ternate Hadirkan 2 Pakar Kurikulum
Keterangan Foto: Kolase foto Wakil Rektor IAIN Ternate Bidang Akademik dan Pengembagan Lembaga, Dr Sukardi Abbas, S.Pd., M.Pd.Si. saat membuka kegiatan dan foto bersama tim penyusunan kurikulum seusai acara pembukaan.
TERNATE -- Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ternate menggelar kegiatan penyusunan kurikulum berbasis Outcome Based Education (OBE).
Kegiatan yang dipusatkan di studio FEBI pada Jum’at (14/8/2026) pagi, dihadiri oleh seluruh tenaga pendidik dan tenaga kependidikan serta para alumni dan stakeholder dibuka secara resmi oleh Wakil Rektor IAIN Ternate Bidang Akademik dan Pengembagan Lembaga, Dr Sukardi Abbas, S.Pd., M.Pd.Si.
Berbeda dengan kegiatan akademik lainnya, penyusunan kurikulum berbasis OBE ditargetkan berlangsung selama tiga hari, yakni jum’at sampai minggu (14-16 agustus 2026) lantaran direncanakan hasil rekonstruksi kurikulum OBE dapat diterapkan pada pelaksanaan semester ganjil tahun akademik 2026-2027.
Dekan FEBI IAIN Ternate, Dr Abd Rauf Wajo, S.HI., M.Ag. menyampaikan, saat ini pemanfaatan teknologi dan produksi inovasi berkembang sangat pesat sehingga menghadirkan kesenjangan di dunia pendidikan, untuk itu dibutuhkan penyesuaian kurikulum untuk menjawab kebutuhan sumber daya manusia (SDM) di dunia kerja dan masyarakat.
Dan’ salah satu solusi untuk merespon persoalan tersebut adalah merencanakan pembelajaran yang tidak hanya berpusat pada materi, melainkan menekankan pada keberlanjutan proses pembelajaran secara inovatif, efektif, serta interaktif demi menargetkan mahasiswa dapat memiliki skill yang komprehensif untuk siap bekerja.
“Untuk meningkatkan kualitas serta mendukung lulusan menguasai lebih banyak kompetensi atau keterampilan praktis, maka salah satu aspek yang menjadi perhatian adalah kurikulum,” jelasnya.
“Jadi, kurikulum perlu dirancang dengan baik oleh perguruan tinggi agar mahasiswa dapat mencapai kemampuan yang diinginkan,” tambahnya.
Dia bilang, pelaksanaan kegiatan rekonstruksi kurikulum berbasis OBE, pihaknya menghadirkan dua pakar kurikulum, yakni Prof Dr Budiyono Saputro, M.Pd dari Universitas Islam Negeri (UIN) Salatiga, Jawa Tengah, dan Dr Zeiburhanus Saleh, SS., M.Pd dari UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember, Jawa Timur.
Dia menilai dua pakar kurikulum yang dihadirkan tersebut untuk memboboti kurikulum FEBI, dengan harapan hasil dari rekonstruksi kurikulum nantinya memberi penguatan secara komprehensif; baik dalam aspek pembelajaran maupun output yang dihasilkan FEBI IAIN Ternate.
“Bahwa penerapan kurikulum OBE di lingkungan perguruan tinggi tentunya sangat strategis dan menghadirkan beragam manfaat. Karena hal ini tak terlepas dari defenisi kurikulum, yakni mengedepankan kompetensi mahasiswa atau lulusan,” katanya.
Dia menjelaskan, rekonstruksi kurikulum merupakan sebuah keharusan oleh perguruan tinggi, lantaran sejumlah regulasi mengisyaratkan perguruan tinggi untuk memusatkan perhatian pada kualitas pembejalaran dan lulusan.
Regulasi tersebut, lanjut dia, yakni undang-undang Nomor 12 tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi, peraturan Pemerintah No. 8 tahun 2012 tentang Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI), permendikbudristek nomor 53 tahun 2023 tentang Penjaminan Mutu Pendidikan Tinggi, dan permendikbud Nomor 5 tahun 2020 tentang Akreditasi Program Studi dan Perguruan Tinggi.
“Merujuk pada regulasi tersebut, penerapan kurikulum berbasis OBE merupakan suatu keharusan dari perguruan tinggi,” katanya.
Sementara Wakil Rektor IAIN Ternate Bidang Akademik dan Pengembagan Lembaga, Dr Sukardi Abbas, S.Pd., M.Pd.Si saat membuka kegiatan menyampaikan, kurikulum merupakan petunjuk arah atau kompas dunia pendidikan, sehingga jika kurikulum disusun secara baik, praktis arah proses pendidikan juga sangat baik.
“Salah satu tuntutan dalam kurikulum berbasis OBE adalah dosen tidak sekadar transfer knowledge, tapi mahasiswa itu diarahkan bukan hanya memiliki pengetahuan tapi punya skill dan ketarampilan, dan punya kemampuan berpikir kritis, serta kemampuan berkolaborasi,” ujarnya.
“Agar sesuatu yang dihasilkan mahasiswa memberi dampak terhadap program studi,” imbuhnya.
Dia menilai penerapan kurikulum OBE diharapkan membawa arah perubahan yang positif di lingkungan perguruan tinggi terkait peningkatkan kualitas lulusan. Sebab, kata dia, dengan kurikulum OBE dapat mendukung lulusan menguasai lebih banyak kompetensi atau keterampilan praktis untuk terjun ke dunia kerja.
“Keterampilan yang dimiliki mahasiswa nantinya diharapkan para lulusan memiliki nilai tambah dan daya saing tinggi di dunia kerja, karena dengan menguasai keterampilan atau kompetensi yang relevan memang sangat sesuai dengan kebutuhan di dunia kerja,” katanya.
Kurikulum berbasis OBE, lanjut dia, juga bermanfaat dalam meningkatkan akuntabilitas penyelenggaraan pendidikan perguruan tinggi. Sebab, kata dia, memberi gambaran soal kualitas kepada masyarakat, karena perguruan tinggi yang menerapkan kurikulum berbasis OBE sudah dapat dipastikan menghasilkan alumni yang berkualitas.
“Jadi masyarakat dengan mudah melihat kualitas dan kredibilitas perguruan tinggi dari kualitas lulusan,” ucapnya.
Dia berharap kegiatan rekonstruksi kurikulum berbasis OBE yang dilaksanakan FEBI dapat berjalan sesuai dengan target, agar pelaksanaan akademik pada semester ganjil tahun akademik 2026-2027 sudah dapat diterapkan.
“Harapan kami, penyusunan kurikulum ini dimaksimalkan agar sudah dapat diterapkan di semester ganjil 2026-2027,” tandasnya. (*)