Begini Pandangan Stakeholder untuk Penguatan Kurikulum Berbasis OBE FEBI IAIN Ternate
Keterangan Foto: Kolase foto Steven Theja dari Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Maluku Utara dan Asisten Direktur Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Maluku Utara, Sukma Aji Wirawan saat memberi pandangan soal kurikulum berbasis OBE FEBI IAIN Ternate pada pelaksanaan workshop kurikulum yang berlangsung di studio FEBI IAIN Ternate, Jum'at (14/8/2026).
TERNATE – Kehadiran alumni dan stakeholder dalam kegiatan workshop penyusunan kurikulum berbasis Outcome Based Education (OBE) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) memberi gradasi positif terhadap penguatan draf kurikulum.
Pasalnya, sepanjang pelaksanaan kegiatan, mereka memberi pandangan konstruktif untuk membantu memastikan bahwa kurikulum yang dirancang tidak hanya menitikberatkan pada peningkatan kualitas mahasiswa dalam aspek akademik, melainkan juga memenuhi kebutuhan pekerjaan dan tuntutan masyarakat.
Seperti disampaikan Steven Theja dari Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Maluku Utara, bahwa rancangan kurikulum pada hakikatnya berfokus pada capaian pembelajaran yang terukur dan memastikan soal keberlanjutan proses pendidikan dapat dilaksanakan dengan baik.
Selain itu, aspek lain yang harus membutuhkan perhatian serius dalam penyusunan kurikulum adalah terkait hal-hal yang dilakukan perguruan tinggi dalam menyiapkan mahasiswa untuk menghadapi dunia industri setelah lulus kuliah.
“Bahwa pengembangan kurikulum merupakan kompas penguatan kualitas pendidikan, dan terkait kompetensi yang dibutuhkan; baik hard skill, soft skill dan soft competency, hal inilah yang perlu dipikirkan dalam penyusunan kurikulum, agar perguruan tinggi senantiasa menghasilkan alumni yang langsung siap pakai di dunia kerja,” katanya saat memberi tanggapan terkait draf kurikulum berbasis OBE FEBI IAIN Ternate saat berlangsungnya kegiatan workshop penyusunan kurikulum di studio FEBI, Jum’at (14/8/2026).
Dia menjelaskan, dalam dunia kerja saat ini, hard skill, soft skill dan soft competency merupakan sesuatu yang sangat dibutuhkan oleh tenaga kerja, sehingga dalam penyusunan kurikulum perguruan tinggi harus memikirkan untuk memberi penguatan agar para lulusan memiliki hard skill, soft skill dan soft competency yang baik.
Dengan begitu, lanjut dia, praktis peluang lulusan untuk diterima di dunia industri semakin terbuka, lantaran secara kualitas dapat diandalkan. Menurut dia, dalam penyusunan kurikulum FEBI, selain mata kuliah yang dijabarkan, aspek lain yang harus ditambahkan adalah soal pendalaman sertifikasi bagi mahasiswa yang lulus.
“Sertifikasi yang harus diperhatikan serta didorong mahasiswa untuk ambil adalah auditor, Sertifikasi Manajemen Risiko dari Lembaga Sertifikasi Pasar Modal (LSP-PM), Sertifikasi bidang SDM dari Butterfly Consulting Indonesia, Sertifikasi Financial Planning, Sertifikasi AHS Manajemen, dan Sertifikasi pemasaran,” katanya.
“Jadi, ke depan tidak cukup hanya mengandalkan ilmu yang didapatkan dari mata kuliah, melainkan dibutuhkan dengan pengakuan sertifikasi dan juga soft competency, yakni bagaimana mahasiswa yang lulus dari perguruan tinggi itu siap bekerja dan berkolaborasi di dunia industri,” tandasnya.
Sementara Asisten Direktur Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Maluku Utara, Sukma Aji Wirawan menilai bahwa pada dasarnya perguruan tinggi harus sudah memikirkan soal serapan alumni di dunia kerja. Dan’ langkah awal yang dilakukan adalah penguatan kualitas melalui kurikulum pada setiap fakultas.
Dia mengungkapkan, hingga saat ini, OJK Malut memiliki perhatian dalam memberi dukungan terhadap perguruan tinggi melalui fakultas ekonomi, dukungan tersebut, kata dia, melalui program yang digulirkan yakni penguatan di bidang syariah; baik secara internal OJK maupun eksternal.
“Kami punya program dalam mendukung perguruan tinggi, yakni menerima mahasiswa dan alumni melakukan praktik kerja, untuk itu selain perhatian terhadap peningkatan keilmuan mahasiswa, aspek kompetensi juga mendapat perhatian agar secara kemampuan dapat diakui oleh dunia industri,” katanya.
Dalam penyusunan kurikulum OBE, lanjut dia, FEBI IAIN Ternate harus memberi perhatian penting soal pembelajaran berbasis teknologi. Menurut dia, perkembangan teknologi digital dan dinamika sosial yang semakin kompleks menuntut dunia pendidikan untuk melakukan penyesuaian agar menghasilkan lulusan yang berkualitas dan siap bersaing di dunia kerja.
“Sebab menguasai keterampilan atau kompetensi yang relevan dengan kebutuhan dunia industri, maka peluang diterima bekerja pun semakin terbuka,” ujarnya.
“Jika perguruan tinggi mendorong pengembangan keterampilan mahasiswa yang relevan dengan kebutuhan industri, maka dapat diasumsikan bahwa perguruan tinggi lebih dinamis dan adaptif terhadap perubahan kebutuhan industri,” pungkasnya. (*)