Keterangan Foto : Suasana Foto Bersama Usai Diskusi Buku “Mahkota Santri” pada Acara Kick Off Peringatan Hari Santri 2026 di Auditorium IAIN Ternate Kampus I Dufa-dufa. Kamis (15/10/2026)
Foto : Umi Kalsum.
Foto : Umi Kalsum.
IAIN TERNATE — Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ternate secara resmi menggelar Kick Off Peringatan Hari Santri 2026 di Auditorium IAIN Ternate, Kampus I Dufa-Dufa, pada Kamis (15/10/2026).
Acara tersebut dibuka secara resmi oleh Rektor IAIN Ternate secara virtual melalui Zoom Meeting. Pembukaan digelar secara daring lantaran Rektor masih berada di luar daerah akibat belum dibukanya akses penerbangan menuju Ternate. Gangguan penerbangan dari dan menuju Bandara Sultan Baabullah Ternate belakangan ini terjadi akibat sebaran kabut asap tebal dampak Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) yang menyelimuti wilayah Maluku Utara.
Dalam sambutannya, Rektor IAIN Ternate menegaskan bahwa peringatan Hari Santri tidak boleh hanya berlalu begitu saja secara seremonial dengan upacara semata. Momentum ini harus didesain melalui kegiatan yang sederhana namun bernilai strategis, salah satunya lewat penyelenggaraan Lomba Karya Tulis Ilmiah (LKTI) dan Lomba Pidato bertema "Ekoteologi dan Moderasi Beragama" bagi siswa MA, SMA, SMK, dan Pondok Pesantren se-Maluku Utara serta mahasiswa IAIN Ternate.
Selain bertujuan menggairahkan kembali budaya literasi di kalangan pelajar dan mahasiswa di tengah gempuran teknologi yang masif, ajang ini juga menjadi sarana tak langsung untuk mendekatkan kampus IAIN Ternate kepada sekolah, madrasah, dan pesantren, mengingat kick off penerimaan mahasiswa baru tahun 2027 akan diluncurkan pada Desember mendatang.
Semarak Hadrah dan Diskusi Buku Bunga Rampai
Peresmian atau pembukaan awal (kick off) rangkaian Hari Santri ini berlangsung semarak dengan penampilan ciamik kesenian Hadrah dari Pondok Pesantren Daarul Falaah Ternate. Selain seremoni pembukaan, kegiatan ini dirangkaikan dengan diskusi buku bunga rampai “Mahkota Santri” karya 31 penulis yang telah dirancang sejak tahun 2025.
Diskusi buku yang dipandu oleh Dr. Hendi Sugianto, M.Pd. selaku moderator ini menghadirkan dua dari 31 penulis sebagai pemateri utama, yakni Guru Besar Universitas Jambi, Prof. Dr. Supian, S.Ag., M.Ag., serta dosen/akademisi IAIN Ternate yang juga menjabat sebagai Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama, Dr. Fatum Abubakar, S.Ag., M.Ag.
Prof. Dr. Supian yang hadir secara daring melalui platform Zoom menggambarkan kehidupan santri ibarat proses melukis.
"Jika kita melukis secara serius dengan mencurahkan segala kemampuan, membentuk garis dan warna seindah-indahnya, maka percaya lah masa depan akan seindah lukisan itu. Sebaliknya, jika melukis asal-asalan dan sekadarnya, jangan berharap masa depan yang indah," paparnya.
Profesor menekankan bahwa hal terpenting dari kehidupan santri adalah keberkahan. Sekali menjadi santri, spirit tersebut akan terus melekat. Santri memiliki landasan nilai yang kuat dalam kehidupan bermasyarakat. Meski kelak tidak lagi berada di lingkungan pesantren, ruh, marwah, dan jati diri santri harus terus dihidupkan dalam kehidupan sosial—sejalan dengan tema nasional Hari Santri 2026: "Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas".
Mengulas Kiprah dan Kaderisasi Alkhairaat
Sementara itu, pemateri kedua, Dr. Fatum Abubakar, S.Ag., M.Ag., mengulas mendalam tentang Alkhairaat, organisasi sekaligus lembaga pendidikan Islam yang berpusat di Palu, Sulawesi Tengah. Lembaga ini didirikan pada tahun 1930 oleh Sayyid Idrus bin Salim Al-Jufri (Habib Idrus/Guru Tua), seorang ulama kelahiran Hadramaut, Yaman, yang mencurahkan hidupnya untuk berdakwah dan mengajar di Indonesia.
Dr. Fatum menyoroti perkembangan Alkhairaat dari sisi kiprah kebangsaan dan ekspansi jaringannya. Berawal dari satu madrasah sederhana, Alkhairaat tumbuh menjadi jaringan pendidikan Islam terbesar di kawasan timur Indonesia.
· Sistem Kaderisasi: Kunci perkembangan Alkhairaat terletak pada pola kaderisasi intensif oleh Guru Tua di Palu.
· Pengutusan Kader: Para alumni yang telah lulus diutus ke berbagai daerah baru untuk menjadi pengajar sekaligus membuka madrasah baru.
· Jangkauan Wilayah: Pola ini membuat Alkhairaat menyebar cepat ke Ampana, Poso, Luwuk, Parigi, Gorontalo, Manado, hingga Ternate.
Refleksi Historis Hari Santri
Melalui perpaduan kick off Hari Santri dan diskusi buku ini, IAIN Ternate menegaskan komitmennya untuk tidak hanya memeriahkan Peringatan Hari Santri secara seremonial, tetapi juga memperkuat iklim literasi, tradisi menulis, dan daya kritis para pelajar, santri, serta mahasiswa dalam mengawal Indonesia menuju Indonesia Emas 2045.
Peringatan Hari Santri Nasional sendiri dirayakan setiap tanggal 22 Oktober untuk meneladani peran besar santri dan ulama dalam memperjuangkan serta mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Penetapan tanggal 22 Oktober merujuk pada peristiwa bersejarah cetusan Resolusi Jihad yang diserukan oleh Pendiri Nahdlatul Ulama, Hadratussyaikh KH Hasyim Asy'ari, pada 22 Oktober 1945 di Surabaya—fatwa yang membakar semangat perlawanan rakyat hingga berujung pada peristiwa heroik Pertempuran 10 November 1945.